Senin, 21 Agustus 2017

Cara Pengkajian Nyeri Berdasarkan PQRST

Posted by Ngurah Jaya Antara on0
Saat membuat diagnose keperawatan kita sering sekali dihadapkan dengan segala hal yang berhubungan dengan nyeri. Jika berbicara mengenai nyeri itu sendiri tidak terlepas dari yang namanya PQRST. Jika teman – teman masih rancu dengan PQRST ini, saya akan mencoba sharing sedikit tentang apa yang saya ketahui. Baiklah sebelum membahas Cara Pengkajian Nyeri Berdasarkan PQRST mari kita mengulas sedikit apa itu nyeri?



Mekanisme Terjadinya Nyeri

Nyeri merupakan suatu mekanisme perlindungan tubuh untuk melindungi dan memberikan tanda bahaya tentang adanya gangguan di tubuh. Mekanisme nyeri adalah sebagai berikut rangsangan diterima oleh reseptor nyeri, di ubah dalam bentuk impuls yang di hantarkan ke pusat nyeri di korteks otak. Setelah di proses dipusat nyeri, impuls di kembalikan ke perifer dalam bentuk persepsi nyeri.

Rangsangan yang diterima oleh reseptor nyeri dapat berasal dari berbagai faktor dan dikelompokkan menjadi beberapa bagian, yaitu:

Rangsangan Mekanik : Nyeri yang di sebabkan karena pengaruh mekanik seperti tekanan, tusukan jarum, irisan pisau dan lain-lain.

Rangsangan Termal : Nyeri yang disebabkan karena pengaruh suhu, Rata-rata manusia akan merasakan nyeri jika menerima panas diatas 450 C, dimana mulai pada suhu tersebut jaringan akan mengalami kerusakan

Rangsangan Kimia : Jaringan yang mengalami kerusakan akan membebaskan zat yang di sebut mediator yang dapat berikatan dengan reseptor nyeri antaralain: bradikinin, serotonin, histamin, asetilkolin dan prostaglandin. Bradikinin merupakan zat yang paling berperan dalam menimbulkan nyeri karena kerusakan jaringan. Zat kimia lain yang berperan dalam menimbulkan nyeri adalah asam, enzim proteolitik, Zat P dan ion K+ (ion K positif ).

Proses Terjadinya Nyeri

Reseptor nyeri dalam tubuh adalah ujung-ujung saraf telanjang yang ditemukan hampir pada setiap jaringan tubuh. Impuls nyeri dihantarkan ke Sistem Saraf Pusat (SSP) melalui dua sistem Serabut. Sistem pertama terdiri dari serabut Ad bermielin halus bergaris tengah 2-5 µm, dengan kecepatan hantaran 6-30 m/detik. Sistem kedua terdiri dari serabut C tak bermielin dengan diameter 0.4-1.2 µm, dengan kecepatan hantaran 0,5-2 m/detik.

Serabut Ad berperan dalam menghantarkan 'Nyeri cepat' dan menghasilkan persepsi nyeri yang jelas, tajam dan terlokalisasi, sedangkan serabut C menghantarkan 'nyeri Lambat' dan menghasilkan persepsi samar-samar, rasa pegal dan perasaan tidak enak.

Pusat nyeri terletak di talamus, kedua jenis serabut nyeri berakhir pada neuron traktus spinotalamus lateral dan impuls nyeri berjalan ke atas melalui traktus ini ke nukleus posteromidal ventral dan posterolateral dari talamus. Dari sini impuls diteruskan ke gyrus post sentral dari korteks otak.

Klasifikasi Nyeri

Klasifikasi nyeri berdasarkan waktu, dibagi menjadi nyeri akut dan nyeri kronis
 Nyeri Akut adalah Nyeri yang terjadi secara tiba-tiba dan terjadinya singkat contoh nyeri trauma
- Nyeri Kronis adalah nyeri yang terjadi atau dialami sudah lama contoh kanker

Klasifikasi nyeri berdasarkan Tempat terjadinya nyeri
 Nyeri Somatik adalah Nyeri yang dirasakan hanya pada tempat terjadinya kerusakan atau                    gangguan, bersifat tajam, mudah dilihat dan mudah ditangani, contoh Nyeri karena tertusuk
 Nyeri Visceral adalah nyeri yang terkait kerusakan organ dalam, contoh nyeri karena trauma di hati    atau paru-paru.
- Nyeri Reperred : nyeri yang dirasakan jauh dari lokasi nyeri, contoh nyeri angina.

Klasifikasi Nyeri Berdasarkan Persepsi Nyeri
 Nyeri Nosiseptis adalah Nyeri yang kerusakan jaringannya jelas
- Nyeri neuropatik adalah nyeri yang kerusakan jaringan tidak jelas. contohnya : Nyeri yang                 diakitbatkan oleh kelainan pada susunan saraf.

Cara Pengkajian Nyeri Berdasarkan PQRST

P : Provokatif / Paliatif
Apa kira-kira Penyebab timbulnya rasa nyeri...? Apakah karena terkena ruda paksa / benturan..? Akibat penyayatan..? dll.

Q : Qualitas / Quantitas
Seberapa berat keluhan nyeri terasa..?. Bagaimana rasanya..?. Seberapa sering terjadinya..? Ex : Seperti tertusuk, tertekan / tertimpa benda berat, diris-iris, dll.

R : Region / Radiasi
Lokasi dimana keluhan nyeri tersebut dirasakan / ditemukan..? Apakah juga menyebar ke daerah lain / area penyebarannya..?

S : Skala Seviritas
Skala kegawatan dapat dilihat menggunakan GCS untuk gangguan kesadaran, skala nyeri / ukuran lain yang berkaitan dengan keluhan

T : Timing
Kapan keluhan nyeri tersebut mulai ditemukan / dirasakan..? Seberapa sering keluhan nyeri tersebut dirasakan / terjadi...? Apakah terjadi secara mendadak atau bertahap..? Acut atau Kronis..?


Sekian Cara Pengkajian Nyeri Berdasarkan PQRST. Semoga bermanfaat J

Selasa, 09 Agustus 2016

Sukses Akreditasi RS Versi 2012




Apa itu Akreditasi?
Suatu pengakuan yang diberikan pemerintah kepada RS karena telah memenuhi standar yang ditentukan. 
Tujuan Akreditasi :
  1. Mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan  pelayanan kesehatan
  2. Memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien, masyarakat, lingkungan  RS danSDM di RS
  3. Meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan  RS
  4. Memberikan kepastian hukum kepada pasien,masyarakat, dan SDM  RS 
Manfaat Akreditasi
  1. Terbentuknya budaya mutu dalam memberikan pelayanan kesehatan pada pasien sesuai standar di RS
  2. Terlindungainya pasien/masyarakat dari layanan kesehatan yang tidak bermutu
  3. Sebagai salah satu syarat peningkatan kelas RS
  4. Peningkatan kesejahteraan rumah sakit 
Apa yang harus diAkreditasi di RS ? 
Akreditasi RS versi 2012 terdapat 15 bab/kelompok kerja (Pokja), 323 standar dan  1218 elemen penilaian (EP), antara lain :
NO
BAB/POKJA
STD
EP
1
Sasaran Keselamatan Pasien (SKP)
6
24
2
Hak Pasien dan Keluarga (HPK)
30
100
3
Pendidikan Pasien dan Keluarga (PPK)
7
28
4
Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP)
23
88
5
Sasaran Millenium Development Goals (MDGs)
3
19
6
Akses Pelayanan dan Kontinuitas Pelayanan (APK)
23
85
7
Asesmen Pasien (AP)
44
184
8
Pelayanan Pasien (PP)
22
74
9
Pelayanan Anestesi dan Bedah (PAB)
14
51
10
Manajemen Penggunaan Obat (MPO)
21
84
11
Manajemen Komunikasi dan Informasi (MKI)
28
109
12
Kualifikasi dan Pendidikan  Staff (KPS)
24
99
13
Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)
24
83
14
Tata Kelola, Kepemimpinan dan Pengarahan (TKP)
27
98
15
Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK)
27
92

Bagaimana proses penilaian Akreditasi di RS ?
Proses penilaian akreditasi meliputi :
A.       Sumber data :
  1. Wawancara :  Pada pimpinan RS Pada staf RS Pada pasien dan keluarga (minimal 4)
  2. Observasi : Fasilitas, alat, prosedur tindakan, dll
  3. Kelengkapan dokumen : Kebijakan/SK, pedoman, standar prosedur operasional (SOP)/Protap, bukti pelaksanaan kegiatan, program kerja, laporan harian, laporan bulanan/harian, dll. 
B.        Cara penilaian :
  1. Tim penilai (surveyor) akan berada di RS selama ± 3 hari yang terdiri dari 3 orang (manajemen, medis dan keperawatan)
  2. Pimpinan RS mempresentasikan program peningkatan mutu dan keselamatan pasien RS
  3. Dilanjutkan telaah dokumen, telaah rekam medik tertutup dan telaah rekam medik terbuka serta survey lapangan,
  4. Penilaian lapangan ditekankan pada telusur pasien untuk di wawancarai/ observasi langsung atas pelayanan kesehatan yang telah/sedang/akan diterima pasien.
  5. Dalam waktu yang bersamaan, kelengkapan dokumen akreditasi juga di observasi dan ditanyakan pada jajaran staf dan pimpinan RS.
  6. Temuan atas ketidaklengkapan dokumen/ kekurangan mutu pelayanan harus diperbaiki saat itu setelah mendapat rekomendasi surveyor.
  7. Telusur lingkungan terhadap fasilitas rs
  8. Telusur KPS
  9. Presentasi FMEA, Pedoman Praktik Klinis/Clinical Pathways, Risk Manajemen Dan IKP (Insiden Keselamatan Pasien)
  10. Wawancara Pimpinan
  11. Exit Conference 
C.        Hasil penilaian :
Ada 4 kriteria hasil penilaian terhadap EP :
1.      Tercapai penuh ( skor 10)
  • Melalui wawancara baik pada pasien/keluarga dan staf ditemukan jawaban “ya” atau “selalu”, atau dapat menjawab sesuai dengan konteks pertanyaan
  • Melalui observasi dokumen, ditemukan minimal 9 dari 10 dokumen yang diminta atau 90 % dokumen lengkap
  • Melalui observasi bukti pelaksanaan, kegiatan/tindakan sudah berjalan minimal 4 bulan terakhir dari masa penilaian
2.      Tercapai sebagian  (skor 5)
  • Melalui wawancara baik pada pasien/keluarga dan staf ditemukan jawaban “tidak selalu” atau “kadang-kadang”,
  • Melalui observasi dokumen, ditemukan 50 sampai 89 % dokumen yang diminta
  • Bukti dipenuhinya persyaratan  hanya  dapat ditemukan di sebagian  daerah/unit kerja dimana persyaratan harus ada
  • Kebijakan/prosedur dapat dilaksanakan tetapi tidak dapat dipertahankan
  • Melalui observasi bukti pelaksanaan, kegiatan/tindakan sudah berjalan 1 - 3 bulan terakhir dari masa penilaian
3.      Tidak tercapai (skor 0)
  • Melalui wawancara baik pada pasien/keluarga dan staf ditemukan jawaban “jarang” atau “tidak pernah”,
  • Melalui observasi dokumen, ditemukan <50% dari dokumen yang diminta
  • Bukti dipenuhinya persyaratan  tidak   dapat ditemukan di daerah/unit kerja dimana persyaratan harus ada 
  • Kebijakan/proses  ditetapkan tetapi tidak dilaksanakan
  • Melalui observasi bukti pelaksanaan, kegiatan/tindakan sudah berjalan hanya ≤1 bulan terakhir dari masa penilaian
4.      Tidak dapat diterapkan
Sebuah EP dinilai “tidak dapat  diterapkan” jika persyaratan dari EP tidak dapat diterapkan di RS (contohnya, RS tidak melakukan riset, tidak ada donasi organ)

Nilai skor akan diakumulasikan pada masing-masing standar yang terdapat dalam bab untuk menentukan apakah suatu standar telah mencapai batas yang telah ditentukan.

EP dinilai dalam skore, sedangkan standard dan bab/grup dinilai dalam persen (%)

Bagaimana kriteria dan katagori kelulusan Akreditasi di RS ?
Bagi RS yang telah lulus akreditasi versi 2012 akan di katagorikan ke dalam 4 tingkatan :
Pokja
Pratama
Madya
Utama
Paripurna
SKP
Tiap  BAB dan Rata-rata Grup MAYOR dg Nilai ≥ 80%
Tiap  BAB dan Rata-rata Grup MAYOR dg Nilai ≥ 80%
Tiap  BAB dan Rata-rata Grup MAYOR dg Nilai ≥ 80%
Tiap BAB dan rata-rata Grup Mayor dg Nilai ≥ 80%
HPK
PPK
PMKP
MDGs
Tiap BAB dan Rata-rata Grup MINOR dg Nilai≥ 20%
APK
AP
PP
PAB
Tiap BAB dan Rata-rata Grup MINOR dg Nilai ≥ 20%
MPO
MKI
KPS
PPI
Grup MINOR dg Nilai ≥ 20%
TKP
MFK

 Langkah menuju sukses akreditasi :
  1. Komitmen dari semua staf dan pimpinan rumah sakit terhadap akreditasi
  2. Bekerja sesuai dengan kebijakan, pedoman, dan SPO yang telah ditetapkan
  3. Senantiasa evaluasi diri untuk mutu pelayanan yang lebih baik
  4. Utamakan kepentingan & keselamatan pasien